MEDIA SOSIAL BISA MENGGIRING KE MUSYRIK

Oleh : Drs. H. M. ZAKARIA, MH

(Hakim Pengadilan Agama Pekanbaru)

Menghadapi fenomena yang aktual dan berkembang di media sosial akhir-akhir ini, diperlukan suatu sikap kehati-hatian pemahaman yang jernih dari sudut Islam, agar tidak salah kaprah dalam meniti tujuan hidup ini sehingga diharapkan bagaimana tetap berada dalam koridor ‘ubudiyah kepada Allah SWT sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini.

Untuk itu bagaimana Islam menyikapi hal tersebut diatas, maka sebaiknya dicerna sejenak pembahasannya secara sederhana sebagai berikut :Disadari atau tidak bahwa kita saat ini telah memasuki era dimana dunia telah menjadi Desa Buana, seperti dikatakan oleh Ibnu Khaldun “Sejarah mengulang jejak”.

Dengan teknologi yang semakin canggih, adanya komputer, internet, handphone, face book, istagram, whatsapp dan lain sebagainya, kesemuanya itu menjadikan dunia terasa dekat tanpa batas, hanya saja segi negatifnya bisa-bisa lebih besar dari era informasi itu sendiri apalagi dengan berbagai macam budaya, kepercayaan, pemikiran dan ideologi akan sampai kepada kita lebih-lebih di era globalisasi dan informasi ini.

Dikaitkan dengan beberapa isu yang beredar di media sosial akhir-akhir ini perlu diwaspadai secara berhati-hati karena banyak hal-hal yang dapat menggiring seseorang menjadi musyrik (mempersekutukan Allah).

Oleh sebab itu mari kita simak beberapa fenomena yang beredar tersebut, diantaranya, sebagai berikut :“Pimpinan hizbulloh libanon, Sayyid Hasan Nashralloh meminta seluruh muslim untuk melafazkan al-Qur’an, surat al-Fath, ayat 26-27, dan meminta tolong untuk disebarkan (share) agar israel hancur sekarang, masjid al-Aqsho sedang diserang oleh israel sekutu. Dengan perintah tolong sebarkan kebeberapa orang lainnya, jangan dihapus kalau belum disebarkan, ini amanat !!! tolong ya saudara kita dalam bahaya!”Atau mempergunakan kata lainnya seperti : “Tolong share gambar ini jika ingin rizki anda melimpah” dan banyak lagi bentuk-bentuk pernyataan yang senada seperti itu.

Contoh pertama tersebut merupakan bentuk fenomena yang beredarsejak berkecamuknya serangan Israel ke Jalur Ghaza, mereka yangmengedarkan sungguh cemas dan takut akan ketentraman dan keamananmasjid Al-Aqsa, padahal dibalik itu harus disadari bahwa Allah SWT mahakuat dan perkasa, dengan kekuatan dan keperkasaannya tetap dapatmenjaga dan memelihara masjid Al-Aqsa dari ancaman bagaimanapuntermasuk serangan tentara Israel ke Palestina tanpa harus ditentukan melaluipengiriman kepada face book teman-teman lainnya, bukankah do’a itu dapatdilafazkan dimana saja dan kapan saja, kalau Allah menghendaki untukmengabulkan, tanpa melalui share pun, Allah tetap mengabulkan do’aseseorang dalam melindungi tempat-tempat syi’ar agamanya, apakah tidakmemperhatikan ayat Al Quran pada surat Al-Fiil yang mengisahkanbagaimana saat-saat akan terjadinya serangan tentara bergajah dibawahpimpinan Abrahah untuk menghancurkan ka’bah baitullah pada beberapaabad yang lalu, selanjutnya dengan izin Allah Swt akhirnya Ka’bah dapatterlindungi dengan bantuan yang mudah saja dengan kedatangan “BurungburungAbabil”, lalu melempari batu-batu kepada Abarahah dan tentaratentaranya,sehingga tewas seketika dan ka’bah pun aman tanpa cacatsedikitpun. Ini adalah bukti nyata keperkasaan dan kekuasaan Allah.

Namunkenapa kita harus share dan menyebarkan ke beberapa teman lainnya?,apakah dengan tidak mengedarkan pernyataan tersebut menjadikan kita tidakamanah? jawabannya tentu tidak, karena masih banyak yang menjadi ukuranyang lebih layak untuk diperbuat lalu dikatakan amanah.

Selain itu juga mungkin masih terasa di benak kita, bahwasebelumnya pernah juga muncul di media sosial seperti perintah yang diiringidengan janji dan ancaman, seperti : seseorang yang menerima beritaadakalanya dengan ayat-ayat Al-Quran atau kalimatun At-Thayyibah atauserangkaian do’a dan asmaul husna dan bentuk berita sejenisnya. Denganjanji dan ancaman bahwa penerima berita di media sosial dihimbau untukmengirim isi pernyataan tersebut ke media sosial teman lainnya, dengansedikit ancaman apabila tidak diedarkan secepatnya, akan mendapatmusibah (kesulitan), sebaliknya kalau diedarkan akan mendapatkeberuntungan yang luar biasa. Jadi dengan berbagai fenomena di mediasosial tersebut seolah-olah musibah, rezeki, kesulitan, keberuntungan dankematian seseorang ditentukan oleh pernyataan di media sosial itu sendiri.

Maka menghadapi beberapa pernyataan di media sosial tersebut,selayaknya umat Islam harus waspada karena saat ini ada segelintirkelompok yang sengaja memperalat agama dengan tujuan tertentu, olehkarenanya jangan mudah percaya, jangan resah dan risau dan harusmeyakini bahwa sesungguhnya pemegang kekuasaan tertinggi itu adalahhanya Allah SWT, Dia akan melindungi ciptaannya jika makhluknya selaluberdo’a dan bertaqwa kepadanya.

Sepatutnya disikapi bahwa adanya keresahan tersebut sebagai upayauntuk menghancurkan umat Islam agar berbuat syirik (mempersekutukan)Allah, apalagi disaat ini umat Islam tengah dilanda multi krisis termasuk krisisiman.Seiring dengan peringatan seabad kebangkitan bangsa, umat Islamharus meningkatkan kewaspadaan dan semangat untuk tetap eksismelaksanakan syari’at Allah dengan tetap meyakini bahwa Allah lah yangmematikan yang hidup, menghidupkan yang mati dan memberi rizki siapasaja yang dikehendaki, memberikan jalan keluar atas kesulitan yang dihadapidan memberikan rizki tanpa disangka-sangka kedatangannya, camkanlah danjangan gentar dan takut, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.

Memang untuk masuk ke dalam agama mereka (Non Muslim) secaralahir mustahil terjadi, tetapi secara bathin bisa saja kita telah diperdaya dandipengaruhi melalui pernyataan di media sosial dan sebagainya, meskipunpengedarnya juga adalah Muslim, tapi sumber pernyataan itu bisa sajamuncul dari kalangan Non Muslim, sehingga berusaha menggiring seseoranguntuk melakukan syirik (mempersekutukan Allah), tapi sebagai Muslim tetapjuga harus menyadari bahwa apabila telah dipengaruhi bersegeralahbertaubat kepada Allah, jangan ulangi lagi dan terus mengingat bahwa Allahtetap mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat kepadanya.

Mari kita menyadari bahwa apa yang telah dianugerahkan oleh AllahSWT berupa kenikmatan, kesulitan, kebahagiaan, keberuntungan. Itusemuaya harus disikapi suatu ujian, karena untuk mengetahui intensitaskeimanan seseorang harus melalui ujian dan sebagai umat Islam yangberiman hendaknya tabah, sabar dan tawakkal dalam menghadapinya,sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan3 yang artinya: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan akanmengatakan kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Padahalkami pun telah menguji orang-orang sebelum mereka. Dan Allahmengetahui mana orang yng benar-benar beriman dan mana yang benarbenarpendusta”.

Dengan memahami ayat tersebut diatas, jelaslah bahwa ujian itusenantiasa diberikan kepada orang yang beriman, semakin tinggi kualitaskadar keimanan seseorang, semakin tinggi pula ujian yang dihadapinya.Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembacanya, amin.Wallahu A’lam bi Al-Shawab.